5 Tipe Manusia di Era AI. Anda yang Mana?

Saya selalu ter-trigger untuk berpikir setiap kali mendengarkan Pak Risman Adnan bicara tentang AI.

Seperti Selasa lalu (12 Agustus 2026), ketika beliau menjadi narasumber dalam webinar Insight Sinergi Talenta tentang bagaimana organisasi perlu mempersiapkan diri menggunakan AI untuk bertransformasi. Karena ternyata, yang sedang berusaha melek AI bukan cuma individu. Korporasi, institusi, bahkan negara pun sedang berlomba-lomba memahami dan memanfaatkan teknologi ini.

Dan semakin saya mengikuti perkembangannya, semakin menarik melihat bagaimana manusia merespons AI.

Kalau disederhanakan, saya melihat ada dua kutub besar.

Di satu sisi ada ketakutan. Takut kehilangan pekerjaan, takut data bocor, takut manusia berhenti berpikir, sampai takut terhadap perubahan dunia yang mungkin terjadi karena AI. Di sisi lain ada excitement. Orang sangat bersemangat mencoba AI, meskipun kadang excitement itu berujung pada penggunaan AI untuk hal-hal yang… yah, remeh-temeh juga.

Anyway, setelah cukup lama mengamati perkembangan AI dan respons orang-orang di sekitar saya, saya mencoba mengelompokkannya ke dalam lima kelompok.

1. Mereka yang benar-benar memahami AI, dan justru yang paling khawatir

Kelompok pertama ini adalah mereka yang memahami AI luar-dalam. Mereka tahu bagaimana teknologi ini bekerja, memahami potensinya, dan tahu sejauh apa manusia bisa memanfaatkannya. Definitely, Pak Risman ada di kelompok ini.

Menariknya, justru orang-orang seperti ini sering kali punya kekhawatiran yang jauh lebih besar (termasuk Pak Risman)

Ketakutannya bukan lagi sekadar soal pekerjaan yang digantikan AI. Tetapi tentang apa yang akan terjadi ketika satu negara, satu bangsa, atau satu kelompok berhasil mengeksploitasi AI jauh lebih cepat dibandingkan yang lain.

Bayangkan ada sebuah bangsa yang melaju sangat jauh karena mampu memanfaatkan AI secara maksimal, sementara bangsa lain tertinggal bertahun-tahun di belakangnya. Gap-nya mungkin bukan lagi sekadar ekonomi atau teknologi. Pak Risman menyebut kemungkinan terjadinya civilization gap. Sebuah bentuk ketimpangan baru yang bahkan mungkin belum pernah kita hadapi sebelumnya.

Bagi orang-orang awam seperti saya, kekhawatiran semacam ini kadang terdengar sedikit exaggerated.

Tetapi semakin dipikirkan, sebenarnya tidak terlalu sulit membayangkan skenarionya. Dan mungkin karena itulah orang-orang di kelompok ini (tentu saja termasuk Pak Risman) justru paling keras mengatakan Gunakan AI. Pelajari. Jangan diam. Jangan tertinggal.

2. Mereka yang paham AI, tetapi khawatir soal privacy

Kelompok kedua sebenarnya sudah cukup paham AI dan tahu bagaimana menggunakannya.

Masalah mereka bukan kemampuan. Masalahnya adalah trust. Mereka punya concern besar terhadap privacy dan keamanan data. Karena semakin canggih kita menggunakan AI, biasanya semakin banyak konteks yang perlu kita berikan. Dokumen. Data. Pengetahuan organisasi. Cara berpikir. Pengalaman. Bahkan kadang informasi yang cukup sensitif.

Muncullah kekhawatiran. Kalau semua pengetahuan ini kita berikan ke AI, bukankah AI akan semakin pintar? Dan juga bagaimana kalau pengetahuan atau data itu tersebar ke mana-mana?

Pak Risman menjawab kekhawatiran ini dengan sebuah kalimat yang cukup menampar.

Memangnya, seberapa banyak privacy yang benar-benar masih kita miliki hari ini? Unfortunately kita sudah tidak punya itu lagi.

Pertanyaan dan pernyataan yang agak menyebalkan, karena terbukti benar tapi kita masih enggan mengakuinya.

Data pribadi sudah tersebar di begitu banyak sistem. Kita menyerahkan identitas, nomor telepon, lokasi, kebiasaan belanja, transaksi, dan berbagai jejak digital hampir setiap hari.

Tentu ini bukan berarti keamanan data tidak penting. Justru sebaliknya. Governance, klasifikasi data, dan pemahaman tentang apa yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada AI menjadi semakin penting.

Tetapi mungkin pertanyaannya perlu bergeser.

Bukan lagi apakah kita harus menggunakan AI karena ada risiko privacy, tetapi pertanyaannya menjadi “Bagaimana kita menggunakan AI dengan tetap mengelola risiko privacy secara sadar?”

3. Mereka yang takut kehilangan kemampuan berpikir

Nah. Saya tidak ragu memasukkan diri saya ke kelompok ketiga ini.

Kelompok ini sudah mulai memahami AI. Sudah tahu bagaimana menggunakannya. Sudah merasakan manfaatnya. Tetapi di belakang kepala tetap ada satu kekhawatiran. Jangan-jangan kalau terlalu sering menggunakan AI, saya jadi berhenti berpikir, dan jadi bodoh.

Saya sangat concern dengan hal ini. Saya takut kehilangan common sense. Takut kemampuan analitis melemah. Takut suatu hari menerima begitu saja jawaban AI karena terdengar sangat pintar dan meyakinkan.

Karena itu saya mencoba membuat mekanisme sendiri. Salah satunya adalah dengan tetap menulis. Saya (berusaha konsisten) membuat tulisan setiap hari mengenai apa yang ada di kepala saya. Apakah itu opini, observasi, analisa, apa pun itu.

Pak Risman punya pendekatan yang menarik. Beliau bilang, “Biarkan AI berpikir. Kita yang men-judge hasil pemikirannya.”

Ini juga masuk akal. Karena kalau tugas kita bergeser dari sekadar producing answers menjadi judging answers, kemampuan yang dibutuhkan justru semakin tinggi. Kita perlu tahu apakah reasoning-nya masuk akal? Apakah ada asumsi yang keliru? Apakah jawabannya bias? Apakah ada sesuatu yang hilang? Apakah rekomendasinya benar-benar applicable?

Kalau seperti ini, AI tidak otomatis membuat kita berhenti berpikir. Tetapi ia memang berpotensi membuat kita berhenti berpikir kalau kita menyerahkan semuanya begitu saja.

Kadang saya juga membalik tekniknya. Saya berpikir dulu. Saya menulis pendapat saya. Lalu saya meminta AI menjadi lawan diskusi. Saya copy paste tulisan saya lalu bilang ke AI, “Coba kritik pemikiran saya. Apa yang saya lewatkan? Di mana asumsi saya mungkin salah?”

Dan surprisingly, metode kedua ini sering kali lebih menyenangkan dan tentu saja menantang.

4. Mereka yang takut pekerjaannya digantikan AI

Kelompok keempat adalah kelompok yang cukup sering saya dengar di media sosial. Mereka sudah tahu AI. Sudah mencoba sedikit. Lalu mulai khawatir “Apakah pekerjaan saya nanti akan digantikan AI?”

Menariknya, saya sendiri belum terlalu sering bertemu orang yang mengatakannya secara eksplisit dalam percakapan langsung. Tapi ketakutan ini menurut saya sangat wajar. Dan logis. Karena memang sejatinya akan ada pekerjaan yang berubah. Akan ada sebagian aktivitas yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam, sekarang bisa dilakukan dalam hitungan menit. Akan ada role yang berubah. Akan ada skill yang semakin tidak relevan.

Tetapi saya masih percaya bahwa selama kita memiliki common sense, logical thinking, kemampuan memahami konteks, dan kemampuan mengambil keputusan dengan baik, selalu ada ruang untuk me-leverage peran kita dengan bantuan AI.

So, pertanyaannya bukan “Apakah AI akan menggantikan saya?”. Pertanyaannya selayaknya menjadi “Kalau sebagian pekerjaan saya bisa dilakukan AI, lalu value apa yang harus saya naikkan?”

Dan menurut saya, itu pertanyaan yang jauh lebih produktif.

Ketakutan justru bisa menjadi energi untuk meng-upgrade kemampuan. Meng-upgrade cara berpikir. Meng-upgrade cara bekerja. Bukan sekadar belajar menggunakan tools AI.

5. Mereka yang menggunakan AI untuk membuat pantun

Lalu sampailah kita pada kelompok terakhir.

Orang-orang yang sudah mendengar tentang AI. Sudah mencoba ChatGPT. Sudah excited. Kemudian menggunakannya dengan prompt “Buatkan pantun pembukaan meeting.” 😄

Tidak ada yang salah dengan pantun, tentu saja. Saya juga pernah meminta AI mengerjakan hal-hal receh. Tetapi begini. Saya suka analogi ini. Ini seperti seseorang yang sangat excited sampai rela antre membeli iPhone 17 Pro terbaru, … lalu menggunakannya hanya untuk menelepon.

Bisa? Tentu.
Salah? Tidak.
Sayang? Iya sih, sangat. 😄

Kalau menggunakan istilah Pak Risman, kita memberikan pekerjaan yang terlalu “cetek” kepada AI.

Dan bisa jadi inilah tantangan kita hari ini. Bukan lagi sekadar mau atau tidak mau menggunakan AI. Tetapi Seberapa jauh kita memahami apa yang sebenarnya bisa kita lakukan dengannya. Karena teknologi yang powerful tidak otomatis membuat penggunanya powerful. Value-nya baru muncul ketika kemampuan teknologi bertemu dengan kemampuan manusia untuk bertanya, berpikir, menilai, menciptakan, dan mengambil keputusan.

Jadi kalau hari ini kita sudah mulai menggunakan AI, itu bagus. Dan pertanyaan berikutnya adalah “Apakah kita sedang benar-benar memanfaatkan AI, atau baru sekadar bermain-main dengannya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *