Saya punya sebuah paradoks yang belakangan ini semakin sering muncul ke permukaan.
Dulu, saya selalu bersemangat belajar programming. Dan darinya, menciptakan berbagai solusi berbasis IT. Mulai dari otomatisasi, pengolahan data dalam jumlah besar, macro, script, hingga program yang cukup kompleks.
Tujuan saya sederhana. Membantu diri saya sendiri dan orang lain menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.
Saya berharap saya dan teman-teman saya tidak perlu berlama-lama di kantor, lembur, atau membawa pekerjaan pulang. Dengan begitu, kami punya lebih banyak waktu bersama keluarga. Lebih banyak kesempatan untuk belajar agama, murajaah Al-Qur’an, membangun kehidupan spiritual, dan menjalani hidup yang lebih utuh sebagai manusia.
Namun, kemudian saya menyadari sesuatu.
Semakin banyak alat yang membuat pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat, semakin banyak pula pekerjaan yang harus diselesaikan. Target dinaikkan. Ekspektasi bertambah. Ruang waktu yang berhasil diciptakan oleh teknologi segera diisi kembali dengan tugas-tugas baru.
Orang-orang tetap pulang lebih lambat. Pekerjaan masih dibawa ke rumah. Waktu bersama keluarga semakin sedikit. Waktu untuk beribadah tetap terbatas, atau bahkan semakin berkurang.
Kehadiran AI membuat paradoks ini semakin nyata.
Kini, bukan hanya pekerjaan teknis yang dapat dipercepat. Proses berpikir yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang pun bisa dipersingkat secara drastis. Akibatnya, menyelesaikan banyak hal dalam waktu singkat perlahan menjadi the new normal.
Kecepatan tidak lagi menjadi keunggulan. Ia berubah menjadi standar minimum.
Padahal, tidak semua pekerjaan perlu diselesaikan dengan cepat. Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu. Memahami persoalan secara mendalam, membangun kepercayaan, melahirkan gagasan yang matang, mendengarkan orang lain berbicara, dan menghasilkan sesuatu yang berkualitas serta bertahan lama.
Sayangnya, “bertahan lama” sepertinya bukan tema besar zaman ini.
Tema hari ini adalah jangan sampai ketinggalan the next big thing. Setiap pekerja seperti terus dikejar untuk berinovasi, menggunakan AI, menemukan cara kerja baru, dan mencapai target yang lebih tinggi.
Lebih cepat. Lebih banyak. Lebih tinggi.
Mungkin, tantangan kita hari ini bukan lagi menemukan cara untuk bekerja lebih cepat. Teknologi sudah sangat mampu membantu kita melakukannya.
Tantangan yang jauh lebih penting adalah memiliki kebijaksanaan untuk menentukan apa yang memang perlu dipercepat, apa yang seharusnya dijalani dengan perlahan, dan apa yang sebenarnya tidak perlu kita kerjakan sama sekali.
Sebab, teknologi seharusnya tidak hanya membuat manusia mampu mengerjakan lebih banyak. Teknologi seharusnya mengembalikan waktu kepada manusia. Untuk keluarga, belajar, beribadah, berpikir dengan jernih, dan hadir sepenuhnya dalam kehidupan.
Jika tidak, mungkin kita bukan sedang mengendalikan teknologi. Kita hanya sedang berlari semakin cepat di dalam mesin yang kita bangun sendiri.
